Cerita
ini berdasarkan pengalamnku waktu membawa rombongan ke Bali. Pertama-tama
aku mau kasih tau, selain mahasiswa aku juga berprofesi sebagai tour guide
domestic freelance. Seperti biasanya pada akhir tahun banyak sekali
orderan datang untuk membawa rombongan tour. Waktu itu aku dapat orderan
membawa rombongan dari SMA N 2 Bandar Lampung yang merupakan sekolah elit yang
ada di Bandar Lampung(sebagian besar mereka adalah anak dari para pejabat dan
pengusaha)ke Bali. Awalnya aku ditugaskan untuk melakukan penjemputan ke
Lampung tapi sehubungan waktu itu aku dalam perjalan pulang dari tour ke
Bandung jadi aku dan pihak travel membuat kesepakatan bahwa aku akan bertemu
mereka di Jogja aja. Pada hari H aku pergi ketempat pertemuan yang sudah
kami temukan.
Cukup lama aku menunggu rombongan yang berjumlah 3 bus itu
akhirnya mereka dating juga dan aku diperkenalkan oleh para guru-guru
pembimbing. Seperti kebanyakan anak SMA, sebagian dari mereka bersikap acuh,
masih mengutamakan ego mereka, agak susah diatur, kurang disiplin dan kurang
respect terhadap orang lain terlebih lagi mereka sebagian besar adalah anak
orang kaya jadi mereka terbiasa di manja oleh orang tua mereka. Sekitar
jam 3 kami meninggalkan Jogja menuju Bali dan dalam perjalanan kami berjalan dengan
lancar, paling gak sampai Probolinggo. Sekitar jam 3 subuh bus yang aku gunakan
mengalami trouble di daerah Probolinggo yaitu kampas kopling busnya habis jadi
kampasnya mesti diganti, klo gak diganti busnya gak bias jala. Karena ini
adalah forge major maka aku menjelaskan permasalahnnya kepada para guru
pembimbing dan untungnya mereka mau mnegerti. Untuk mempersingkat waktu aku pun
mencari bus pengganti sementara tetapi selama sekitar 1.5 jam berkeliling
mencari bus pengganti dengan menngunakan becak aku gak menemukan bus
penggantinya. Karena gak menemukan bus pengganti aku pun kembali ketempat bus
mogok tadi lalu aku meminta bantuan sama temanku untuk mencarikan bus
pengganti. Lama kami menunggu, sekitar jam 6 pagi akhirnya kami mendapatkan bus
pengganti (Bus Akas) sementara yang akan membawa kami ke Bali. Berhubung sudah
pagi maka kami memutuskan untuk singgah ke rumah makan yang berada di Pasir
Putih dan tiba disana sekitar jam 08.30 pagi untuk makan dan mandi. Sekitar jam
10 pagi kami meninggalkan rumah makan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali.
Kami tiba di pelabuhan Gilimanuk Bali sekitar jam 14.00 WITA, karena kami sudah
sangat telat makan kami memutuskan untuk langsung menuju hotel dengan
konsekuensi objek wisata yang mau dikunjungi pada hari itu kami canceled.
Setibanya di hotel jam 7 malam, karena besoknya kami sudah gak memakai bus itu
lagi maka saya menyuruh para rombongan untuk menurunkan semua barang bawaan
mereka. Sudah menjadi tugas wajib para tour guide bahwa pada saat
rombongan turun dari bus, kami harus memeriksa kembali bus tersebut agar gak
ada barang yang tertinggal di dalam bus. Setelah memeriksa bus, aku menemukan
banyak banget barang-barang yang tertinggal di dalam bus seperti handuk, jaket,
kacamata, sisir, dan lain sebagainya. Setelah memastikan sudah gak ada barang
yang tertinggal, aku pun turun dari bus dan membawa barang bawaanku dan
langsung membagi kamar kepada para rombongan. Sekitar jam 9 malam kami mendapat
laporan bahwa salah seorang anak dompetnya hilang, setelah kami interogasi
ternyata dompet anak tersebut terjatuh di dalam bus. Salah satu kesalahan kami
adalah kami gak mencatat contact person bus akas tersebut jadi kami pun gak
bias memastikannya. Karena sudah gak ada harapan lagi maka kami menyrankan
kepada anak itu untuk mengikhlaskan dompetnya yang hilang. Pada saat
perjalanan pulang dari Pulau Bali menuju Pulau Jawa, dekitar daerah Kabupaten
Singaraja salah satu guru pembimbing mendapat kabar bahwa dompet yang hilang
sudah ditemukan dan kami pun langsung menghubungi orang yang menemukan dompet
itu. Dengan beberapa lobi kami pun janjian untuk ketemuan di Probolinggo. Pada
saat kami berada di Paiton (sekitar 30 menit dari meeting point) kami
menghubungi orang itu lagi untuk memastikan tempat ketemuannya, dan yang bikin
aku agak geli dan salut sama orang itu adalah dia minta izin kepada kami untuk
mengambil uang yang ada di dompet itu sebesar 120 ribu, 100 ribu untuk
diberikan kepada tukang cuci bus yang menemukan dompet itu dan 20 ribunya lagi
untuk dia belikan pulsa karena sudah menelpon kami. Akhirnya, sekitar jam 1
subuh kami bertemu dengan orang itu,setelah turun dari bus dan melihat orangnya
ternyata dia adalah kerneknya bus akas dan pada saat itu kamis sangat kaget.
Dan lalu dia memberikan dompet itu dan memintanya memeriksa kembali dompet
tersebut apakah isi dompet itu utuh dan setelah di periksa ternyata isi dompet
itu utuh, surat-surat dan uangnya yang ada di dompet itu (kecuali 120 ribu
tadi) masih ada didalam dompet itu. Uang yang ada di dompet itu sebanyak sekitar
900 ribuan. Sebagai ucapan terima kasih mas itu pun dikasih imbalan sebesar 200
ribu tetapi dia menolak (bahkan semakin didekatin mas nya semakin menjauh),
setelah dipaksa dan kami ngasihnya ikhlas mas nya pun mau terima uang dari
kami. Pada saat itu dia ditemenin sama istrinya, dan aku melihat mereka
sangat lugu banget bahkan kami sempat ditawari untuk singgah dirumahnya tapi
karena kami lagi dalam perjalanan maka kami secara halus
menolaknya. Itulah pengalamanku waktu bawa rombongan ke Bali di akhir
tahun. Aku sangat salut sekali ma orang itu, ternyata di zaman seperti ini
masih ada orang yang sangat jujur seperti itu walaupun dia orang gak mampu. Dia
hanya seorang kernek bus yang penghasilannya sebulan gak samapi 1 juta.
Walaupun dia orang miskin tapi dia mempunyai hati yang sangat kaya. Dia sudah
menjadi sumber inspirasiku. Semoga dia selalu diberi kesehatan dan rezeki yang
berlimph kepada ALLHA. Amin…







Tidak ada komentar :
Posting Komentar