Pages

Sabtu, 24 Agustus 2013

Menikmati Senja di Sungai Mahakam

Ada beberapa moment yang sangat saya suka untuk menghilangkan kejenuhan dalam menjalani kehidupan yang sangat kompleks ini. Diantara beberapa moment tersebut adalah melihat Sunrise, melihat Sunset, melihat dan mendengar suara deburan ombak, bermain dan melihat Air Terjun. Kali ini saya akan ceritakan tentang sunset.
Banyak tempat untuk menyaksikan sunset, bisa di pantai, gunung, bukit dan dataran tinggi lainnya, dan pantai masih menjadi tempat favorit bagi sebagian orang untuk menyaksikan sunset, bukan berarti tempat-tempat yang lain kurang bagus untuk menyaksikan sang mentari pulang ke peraduannya. Untuk menyaksikan sunset memang harus berada ditempat yang mempunyai sudut pandangan yang luas tanpa harus terhalang oleh bangunan-bangunan pencakar langit. Dan, saya mencoba menyaksikan sunset dari tempat yang berbeda, yaitu di Sungai Mahakam.

Sungai yang membelah Kota Samarinda ini merupakan salah satu jalur transportasi yang sangat penting bagi industri pertambangan khususnya industri batubara yang ada di Kalimantan Timur. Setiap harinya sungai ini dilalui hampir 100 kapal pembawa batubara dan kapal-kapal lainnya seperti kapal transportasi umum maupun kapal bermuatan lainnya. Dengan kesibukan transportasi airnya, ternyata tidak mengurangi saya untuk menyaksikan sunset yang tidak kalah bagus dari tempat-tempat lain yang ada di Kota Samarinda seperti di Bukit Jelawat dan Gunung Butun (Gunung Pemancar).

Awalnya saya sama sekali tidak ada rencana untuk melihat sunset, keinginan itu bermula pada saat saya pulang dari acara pernikahan keluraga saya, ketika melewati Jembatan Mahakam (dari Samarinda Kota ke Samarinda Seberang) saya melihat langit sangat cerah sekali dan saya bertanya kepada kakak saya dimana tempat yang bagus untuk melihat sunset. Lalu kakak saya pun mengajak saya ketempat temannya yang berada di Kampung Masjid yang kebetulan rumahnya berada di pesisir Sungai Mahakam. Tiba di rumah teman kakak saya, kami duduk-duduk di teras belakang rumahnya sambil menunggu kapal angkutan (kapal taksi) lewat, tidak lama menunggu kapal angkutan yang ditunggu-tunggu pun datang dan mulai lah proses negosiasi tawar menawar untuk menyewa kapal angkutan itu dan kami sepakat Rp.50.000 ribu untuk menyusuri  Sungai Mahakam dari Kampung Masjid sampai Jembatan Mahakam. 

Dan mulailah kami menyusuri Sungai Mahakam dan kamerapun sudah dipersiapkan. Selama menyusuri Sungai Mahakam tiba-tiba saya teringat masa kecil saya sekitar 14 tahun yang lalu. Pada masa-masa 14 tahun yang lalu hampir tiap sore saya berenang di Sungai Mahakam dengan cara bergandengan di kapal angkutan yang menuju ke hulu dan sekitar 5 kilometer kami melarutakan diri menuju ke hilir dengan hanya bermodalkan jerigen. Masa kecil memang masa yang menyenangkan. Dulu, 14 tahun yang lalu, hampir tiap hari saya meyaksikan sunset di pinggir Sungai Mahakam, baru sekarang saya menyadari bahwa Sungai Mahakam adalah salah satu tempat favorit saya menyaksikan sunset selain Candi Ratu Boko. Begitu menenangkan jiwa.....





Tidak ada komentar :

Posting Komentar